Tuesday, September 15, 2009

Catatan dari Tilburg 1: Belajar...Belajar....

Udah lama gw ga nulis, setelah urusan2 imigrasi selesai (tinggal nunggu kartu), gw pengen nulis note lagi untuk berbagi cerita. Ya, mudah2an teman2 berkenan

Kuliah pertama gw dimulai tanggal 31 agustus lalu, jadi udah 2 minggu gw mulai kuliahnya. Di kelas gw, sebagian besar anak2 Belanda, selebihnya ada beberapa dari Inggris (2 org dr mereka lulusan London School of Economics, prog Ekonomi paling bergengsi di Eropa), 5-6 org dari Turki, 2-3 org dr Italia, 6-7 org China, 1 org India. Ada juga beberapa dari Eropa Timur (Estonia, Ukraina, Rusia, dll). Gw adalah satu2nya orang dr Asia Tenggara di kelas MSc in Economics.

Sampe oktober nanti, mata kuliah gw cuma dua, Econometrics (3x seminggu), dan Mathematics (2x seminggu). Kedua mata kuliah ini diajar oleh 2 profesor yang berbeda, tapi nanti nilainya akan digabung dalam satu kesatuan dengan nama subject "Applied Method for Economist".

Dari namanya, kita akan berfikir bahwa mata kuliah ini akan mengajarkan bagaimana menerapkan prinsip2 dan teori Econometrics dan Mathematics dalam ilmu Ekonomi. Ternyata salah (dan hampir semua mahasiswa ketipu), mata kuliah ini aspek terapannya kecil sekali. Karena sejauh ini, ga ada aspek terapannya sama sekali. Yang ada kita diajarin bagaimana nurunin formula statistik a, nurunin persamaan matematik b, menentukan apakah sebuah fungsi itu positive definite, negative definite, atau indefinite. What? iya, yg diajarin malah teori matematika dan teori statistik. Belum selesai sampe di situ, pas dikasih tugas pun, isinya nurunin rumus. Dari tugas yang ada, cuma 1 soal yg ngolah data, selebihnya soalnya model2 kayak gini: If F is the number of Women, and N-F is the number of men in samples. Whereas the average earnings of men is Ym and the average earnings of women is Yf. Consider regression of earnings (Y) and dummy variable (X) which is 1 for women, and 0 for men, then Proved that B1 = Yf - Ym ! Temen2 gw yg lulusan London School of Economics langsung bilang, "What the f**k?

Mata kuliah Ekonometrics dan Mathematics ini akhirnya "makan korban" juga. Ada beberapa temen gw (hampir belasan) yang pindah prog dr MSc in Economics ke MSc in Investment Analysis. Di prog MSc in Investment Analysis, mata kuliah Econometrics dan Math td ga wajib. Dua di antara belasan mahasiswa yg pindah jurusan itu adalah room-mate gw, Xiang dr China, dan Matthew, kelahiran Poland, warga negara Inggris, dan s1 ny dr LSE (gila ga niy orang?).

Beginilah meja gw klo lagi sibuk ngerjain tugas Math.

Yes, I proved that f(x,y) = (x-y) (x^2 + y^2 -1) has saddle points at (-1/2(2^0.5), -1/2(2^0.5)) and (1/2(2^0.5), 1/2(2^0.5)


Di sini memang bisa pindah jurusan dlm satu fakultas. Kata temen gw yg pindah, asalkan ngajuinnya sebelum oktober. Dan klo ga asalah ada sekitar 13 mhsiswa yg pindah jurusan dr MSc in Economics ke MSc in Finance atau MSc in Investment Analysis. Ada yang pindah ke MSc in Economics? TIDAK. Jadi skrg net inflow program gw adalah negatif.

Sejauh ini gw salut dengan budaya belajar di sini. Ada beberapa yg patut kita tiru. 1. Dosen mulai tepat waktu dan selesai tepat waktu. Jadi kalo jdwl kuliah dr jam 10.45-12.30, ya kuliahnya dr jam 10.45-12.30. Pas jam 10.45, pintu ditutup. Gimana klo telat, boleh masuk ga? Boleh, asalkan kita kuat menahan malu dilaitin dg muka galak ama dosen (udah dosen Math, galak pula, siapa yg tahan) dan wjah temen2 kita menahan tawa. Sejauh ini gw belum pernah telat. Yg sering telat bisanya mahasiswi dr Italia dan Spanyol. Untungnya mereka cantik, jadi kita cepat memeaafkan walu sempat terganggu. Bayangkan klo yg telat gw? 2. Mahasiswa ga malu untuk nanya pertanyaan bodoh ataupun menjawab pertanyaan dan jawabannya salah. Ya, bagi mereka yg penting aspirasi mereka tersampaikan, dianggap bodoh atau salah itu bukan soal. (Klo org kayak Irza kan yg penting aspirasi dr "bawah" harus disalurkan). 3. Klo diskusi atau ngerjain tugas, mereka semangat banget. Untuk tugas ekonomet, gw sekelompok ama cew dr Estonia, namanya Maria Arumaa (Dia yg ngajakin duluan gw sekelompok, SUER!!). Kebiasaan di Indonesia, tugas dikerjain menjelang deadline. Tapi cew ini trus mendesak unk ngerjain tugas dg segera. Alhasil, tugasnya udah selesai wlpn baru dikumpul beberapa hari lagi.

Soal buku, buku di sini mahalnya selangit. Untuk buku econometrics, harganya 62 euro (sebagai perbandingan, roti gede yg bisa unk 5 kali makan harganya 1 euro. Jadi 62 euro bisa untuk 310 kali makan klo dibeliin roti semua). Untungnya gw bawa beberapa buku dr Indonesia. Temen2 china gw salut dg hal ini. Mereka nanya, kok bisa gw begitu siap sampe2 bawa buku2 dr Indonesia. Gw bilang, ya dari internetlah, kan ada di websitenya info ttg buku wajib tiap mata kuliah! menurut loe?? (untungnya bagian "menurut loe?" ini tidak gw sampaikan, soalnya gw bingung meng-Inggriskannya).

Tapi bukan berarti hobi gw menghabiskan waktu di toko buku serta merta sirna. Beberapa hari yg lalu gw menemukan toko buku bekas di basement gedung Cobbenhagen (Thanks Mas Mansur for the Info). Buku bekas di sini murahnya minta ampun. Gw berhasil dpt buku "Modern Macroeconomics: Intermediate Text" dan "Economics of Input-Output Analysis" dg harga 3 euro/book. Murah kan? Selain buku2 ekonomi, di sini juga banyak buku sejarah, politik, dan sastra (Belanda maupun Inggris).
Ini buku bekas yang gw beli dr toko buku "Books 4 Life". Masih dlm kondisi sangat baik loh...


Segini dulu aja catatan2 kecil gw. Cuma untuk share pengalaman2 di sini. Wish me luck, dan semoga sukses untuk kalian semua.